LEMBAR
PENGESAHAN
Laporan
yang berjudul “PRAKTIKUM PEMBUATAN SABUN CUCI PIRING”
ini diajukan sebagai tugas dalam kurikulum Operasi Teknik Kimia Tahun Ajaran 2017/2018
di SMK Negeri 2 Depok Sleman
ini diajukan sebagai tugas dalam kurikulum Operasi Teknik Kimia Tahun Ajaran 2017/2018
di SMK Negeri 2 Depok Sleman
Disusun
oleh:
1. Ganing
Irbah AL L ( 16214 )
2. Indah
Nur Aurum A (16219 )
3. Krisnanti
Tri Nugraheni( 16220 )
4. Mareta
Indah Damayanti (16225 )
Yogyakarta, 26 Februari 2018
Hormat
kami,
Kepala
Jurusan
|
Pembimbing
|
Ketua
|
|||
Dra. Eny Hendriyati, M. T
NIP. 19670907 199003 2004
|
Surip, M. Pd
NIP .19660811 199001 1001
|
Mareta Indah D
NIS. 16225
|
|||
Mengetahui,
|
|||||
Kepala
Sekolah
|
|||||
Drs. Aragani Mizan Zakaria, M. Pd
NIP. 19630203 198803 1 010
|
|||||
KATA
PENGANTAR
Puji
dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat serta hidayah- Nya kepada kita semua sehingga sampai saat ini kami
selaku siswa jurusan Kimia Industri A SMK N 2 Depok masih dapat melaksanakan
pembelajaran praktikum kejuruan yang menjadi tanggung jawab kami.
Praktikum
ini merupakan tugas kejuruan dan bertujuan untuk melatih berwirausaha
dalam pembuatan sabun cuci piring agar
mengerti dan mempraktikan serta memasarkan produk yang telah di produksi.
Selain itu, juga untuk menciptakan produk. Produk yang berkualitas dan berani
menawarkan hasil produksi dikalayak umum.
Adapun
kegiatan ini kami selenggarakan guna menyalurkan kemampuan para siswa alam
membuat produk sabun cuci piring pada masyarakat. Sabun cuci piring dapat
memberwsihkan kotoran. Sabun cuci piring mempunyai 2 bentuk yaitu sabun
cucipiring cream dan sabun cuci piring cair. Karena sabun cuci piring cream
kurang lembut ditangan, kami mencoba memproduksi sabun cuci piring cair,
disampig lembut di tangan sabun cuci piring cair juga dalam pembuatannya tidak
membutuhkan banyak biaya.
Yogyakarta,
26 Februari 2018
Penulis
DAFTAR
ISI
Lembar
Pengesahan ............................................................................................................ 1
Kata
Pengantar ................................................................................................................... 2
Daftar
Isi ............................................................................................................................. 3
Bab I Pendahuluan
1. Latar
Belakang ........................................................................................................ 5
2. Tujuan
..................................................................................................................... 5
Bab
II Kajian Pustaka
1. Dasar
Teori .............................................................................................................. 6
2. Rumusan
Hipotesis................................................................................................ 11
Bab
III Metodologi
1. Prosedur
Pencarian Judul....................................................................................... 12
2. Prosedur
Survey..................................................................................................... 12
3. Prosedur
Percobaan Pendahuluan.......................................................................... 13
4. Prosedur
Produksi.................................................................................................. 13
5. Prosedur
Pemasaran............................................................................................... 14
6. Prosedur
Pelaporan................................................................................................ 14
7. Alat
dan Bahan...................................................................................................... 15
8. Cara
Kerja.............................................................................................................. 15
Bab
IV Pelaksanaan
1.
Proses
Pelaksanaan................................................................................................ 16
2.
Rincian
Pelaksanaan.............................................................................................. 17
a.
Nama Kegiatan ............................................................................................... 17
b.
Landasan
Kegiatan ......................................................................................... 17
c.
Bentuk Kegiatan ............................................................................................. 17
d.
Pelaksanaan
Kegiatan ..................................................................................... 18
e.
Susunan Panitia................................................................................................ 18
f.
Anggaran Dana ............................................................................................... 18
g.
Label ............................................................................................................... 21
h.
Dokumen Kegiatan.......................................................................................... 21
i.
Evaluasi Kegiatan............................................................................................ 21
Bab
V Penutup ................................................................................................................ 22
Daftar
Pustaka .................................................................................................................. 23
Lampiran
........................................................................................................................... 24
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar
Belakang
Penggunaan
sabun sudah tidak asing lagi dalam kehidupan sehari-hari. Pada perkembangannya
seperti sekarang, semakin banyak jenis sabun yang beredar di pasaran, mulai
dari yang bersifat khusus untuk kecantikan maupun umum untuk membersihkan
kotoran salah satunya adalah sabun cuci piring. Sabun cuci piring mempunyai dua
bentuk, yaitu sabun cuci piring cream dan sabun cuci piring cair. Faktor
kepraktisan dan kecepatan larut sabun dalam air pada sabun cair menyebabkan
banyak orang lebih memilih menggunakannya daripada sabun cream cuci piring.
Selain itu pula disebabkan aroma sabun cream baunya lebih menempel pada
peralatan dapur serta kurang lembut di tangan.
Sabun secara umum merupakan senyawa natrium
atau kalium yang mempunyai rangkaian karbon yang panjang dan direaksikan dengan
asam lemak khususnya trigliserida dari minyak nabati atau lemak hewani. Sabun
dihasilkan oleh proses saponifikasi, yaitu hidrolisis lemak menjadi asam lemak
dan gliserol dalam kondisi basa. Pada perkembangannya bentuk sabun menjadi
bermacam-macam, yaitu sabun padat, sabun lunak, sabun cair, dan sabun bubuk.
Jika basa yang digunakan adalah NaOH, maka produk reaksi berupa sabun keras
(padat), sedangkan bila basa yang digunakan berupa KOH, maka produk reaksi
berupa sabun cair.
2.
Tujuan
a. Melatih
kewirausahaan dan ekonomi kreatif
b. Dapat
membuat sabun cuci piring cair
c. Melatih
kemandirian
d. Melatih
pentingnya jiwa interpresenship
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
1.
Dasar Teori
·
Pengertian dan
sejarah sabun
Sabun memiliki banyak bentuk, salah
satunya adalah sabun cair. Sabun cair merupakan produk yang strategis, karena
saat ini masyarakat modern suka produk yang praktis dan ekonomis. Penggunaan
sabun cair juga telah meluas, terutama pada sarana-sarana publik.
Jika diterapkan pada suatu permukaan, air bersabun secara efektif mengangkat
partikel dalam suspensi mudah dibawa oleh air bersih. Sabun cair memiliki
manfaat dan kegunaan yang tidak kalah dengan sabun-sabun berbentuk
lainnya.
Sabun adalah surfaktan yang digunakan dengan air untuk mencuci dan membersihkan.
Sabun biasanya berbentuk padatan tercetak yang disebut batang karena sejarah dan bentuk
umumnya. Penggunaan sabun cair juga telah telah meluas, terutama pada sarana-sarana
publik. Jika diterapkan pada suatu permukaan, air bersabun secara efektif
mengikat partikel dalam suspensi mudah dibawa oleh air bersih. Di negara berkembang, deterjen sintetik telah menggantikan sabun sebagai alat bantu
mencuci atau membersihkan (Anonim 2012). Sabun ini merupakan logam alkali
dengan rantai asam monocarboxylic yang panjang. Larutan alkali yang biasa
digunakan pada sabun batang adalah NaOH sedangkan untuk sabun cair adalah KOH.
Banyak
sabun merupakan campuran garam natrium atau kalium dari asam lemak yang dapat diturunkan dari minyak atau lemak dengan
direaksikan dengan alkali (seperti natrium atau kalium
hidroksida) pada
suhu 80–100 °C melalui suatu proses yang dikenal dengan saponifikasi. Lemak akan terhidrolisis oleh basa, menghasilkan gliserol dan sabun mentah.
Sabun juga
merupakan suatu gliserida (umumnya C16 dan
C18 atau karboksilat) yang
merupakan hasil reaksi antara ester (suatu derivat asam alkanoat yaitu
reaksi antara asam karboksilat dengan alkanol yang merupakan senyawa aromatik
dan bermuatan netral) dengan hidroksil dengan residu gliserol (1.2.3 –
propanatriol). Apabila gliserol bereaksi dengan asam–asam yang jenuh (suatu
olefin atau polyunsaturat) maka
akan terbentuk lipida (trigliserida atau triasilgliserol) (Atmojo 2012).
Sabun merupakan bahan logam
alkali (basa) dengan rantai asam monocarboxylic yang panjang. Larutan alkali
yang digunakan dalam pembuatan sabun bergantung pada jenis sabun tersebut.
Larutan alkali yang biasa digunakan pada sabun keras adalah Natrium Hidroksida
(NaOH) dan alkali yang biasa digunakn pada sabun lunak adalah Kalium Hidroksida
(KOH).
Sabun berfungsi untuk mengemulsi kotoran-kotoran berupa minyak ataupun zat
pengotor lainnya. Sabun dibuat melalui proses saponifikasi lemak minyak dengan
larutan alkali membebaskan gliserol. Lemak minyak yang digunakan dapat berupa
lemak hewani, minyak nabati, lilin, ataupun minyak ikan laut.
Pada saat ini teknologi sabun
telah berkembang pesat. Sabun dengan jenis dan bentuk yang bervariasi dapat
diperoleh dengan mudah dipasaran seperti sabun mandi, sabun cuci baik untuk
pakaian maupun untuk perkakas rumah tangga, hingga sabun yang digunakan dalam
industri.
Kandungan zat-zat yang
terdapat pada sabun juga bervariasi sesuai dengan sifat dan jenis sabun.
Zat-zat tersebut dapat menimbulkan efek baik yang menguntungkan maupun yang
merugikan. Oleh karena itu, konsumen perlu memperhatikan kualitas sabun dengan
teliti sebelum membeli dan menggunakannya.
Sabun murni terdiri dari 95%
sabun aktif dan sisanya adalah air, dliserin, garam dan impurity lainnya.Semua
minyak atau lemak pada dasarnya dapat digunakan untuk membuat sabun. Lemak dan
minyak nabati merupakan dua tipe ester. Lemak merupakan campuran ester yang
dibuat dari alcohol dan asam karboksilat seperti asam stearat, asam oleat dan
asam palmitat. Lemak padat mengandung ester dari gliserol dan asam palmitat,
sedangkan minyak, seperti minyak zaitun mengandung ester dari gliserol asam
oleat.
·
Macam - Macam Sabun :
a.
Shaving Cream
Shaving
Cream disebut juga dengan sabun Kalium. Bahan dasarnya adalah campuran minyak
kelapa dengan asam stearat dengan perbandingan 2:1.
b.
Sabun Cair
Sabun
cair dibuat melalui proses saponifikasi dengan menggunakan minyak jarak serta
menggunakan alkali (KOH). Untuk meningkatkan kejernihan sabun, dapat ditambahkan
gliserin atau alcohol.
c.
Sabun kesehatan
Sabun
kesehatan pada dasarnya merupakan sabun mandi dengan kadar parfum yang rendah,
tetapi mengandung bahan-bahan antiseptic dan bebas dari bakteri adiktif.
Bahan-bahan yang digunakan dalam sabun ini adalah tri-salisil anilida, tri-klor
carbanilyda, irgassan Dp 300 dan sulfur.
d.
Sabun Chip
Pembutan
sabun chip tergantung pada tujuan konsumen didalam menggunakan sabun yaitu
sebagai sabun cuci atau sabun mandi dengan beberapa pilihan komposisi tertentu.
Sabun chip dapat dibuat dengan berbagai cara yaitu melalui pengeringan, atau
menggiling atau menghancurkan sabun yang berbentuk batangan.
e.
Sabun Bubuk untuk mecuci
Sabun
bubuk dapat diproduksi melalui dry-mixing. Sabun bubuk mengandung
bermacam-macam komponen seperti sabun, sodasah, sodium metaksilat, sodium
karbonat, sodium sulfat, dan lain-lain.
·
Berdasarkan ion yang dikandungnya,
sabun dibedakan atas :
a.
Cationic Sabun
Sabun
yang memiliki kutub positif disebut sebagai kationic detergents. Sebagai
tambahan selain adalah bahan pencuci yang bersih, mereka juga mengandung sifat
antikuman yang membuat mereka banyak digunakan pada rumah sakit. Kebanyakan
sabun jenis ini adalah turunan dari ammonia.
b.
Anionic Sabun
Sabun
jenis ini adalah merupakan sabun yang memiliki gugus ion negatif.
c.
Neutral atau Non Ionic Sabun
Non
ionic sabun banyak digunakan untuk keperluan pencucian piring. Karena sabun
jenis ini tidak memiliki adanya gugus ion apapun, sabun jenis ini tidak beraksi
dengan ion yang terdapat dalam air sadah. Non ionic sabun kurang mengeluarkan
busa dibandingkan dengan ionic sabun.
·
Bahan Baku Utama Pembuatan Sabun
Lemak dan minyak yang umum
digunakan dalam pembuatan sabun adalah trigliserida dengan tiga buah asam lemak
yang tidak beraturan diesterifikasi dengan gliserol. Masing masing lemak
mengandung sejumlah molekul asam lemak dengan rantai karbon panjang antara C12
(asam laurik) hingga C18 (asam stearat) pada lemak jenuh dan begitu juga dengan
lemak tak jenuh. Campuran trigliserida diolah menjadi sabun melalui proses
saponifikasi dengan larutan natrium hidroksida membebaskan gliserol. Sifat
sifat sabun yang dihasilkan ditentukan oleh jumlah dan komposisi dari komponen
asam asam lemak yang digunakan.
Komposisi asam-asam lemak
yang sesuai dalam pembuatan sabun dibatasi panjang rantai dan tingkat
kejenuhan. Pada umumnya, panjang rantai yang kurang dari 12 atom karbon
dihindari penggunaanya karena dapat membuat iritasi pada kulit, sebaliknya
panjang rantai yang lebih dari 18 atom karbon membentuk sabun yang sukar larut
dan sulit menimbulkan busa. Terlalu besar bagian asam asam lemak tak jenuh
menghasilkan sabun yang mudah teroksidasi bila terkena udara.
Asam lemak tak jenuh memiliki
ikatan rangkap sehingga titik lelehnya lebih rendah daripada asam lemak jenuh yang
tidak memiliki ikatan rangkap, sehingga sabun yang dihasilkan juga akan lebih
lembek dan mudah meleleh pada temperatur tinggi.
·
Bahan Pendukung Pembuatan Sabun
Bahan baku pendukung
digunakan untuk membantu proses penyempurnaan sabun hasil saponifikasi
(pegendapan sabun dan pengambilan gliserin) sampai sabun menjadi produk yang
siap dipasarkan. Bahan-bahan tersebut adalah NaCl (garam) dan bahan-bahan
aditif.
a. NaCl.
NaCl merupakan komponen kunci
dalam proses pembuatan sabun. Kandungan NaCl pada produk akhir sangat kecil
karena kandungan NaCl yang terlalu tinggi di dalam sabun dapat memperkeras
struktur sabun. NaCl yang digunakan umumnya berbentuk air garam (brine) atau
padatan (kristal). NaCl digunakan untuk memisahkan produk sabun dan gliserin.
Gliserin tidak mengalami pengendapan dalam brine karena kelarutannya yang
tinggi, sedangkan sabun akan mengendap. NaCl harus bebas dari besi, kalsium,
dan magnesium agar diperoleh sabun yang berkualitas.
b. Bahan aditif.
Bahan aditif merupakan
bahan-bahan yang ditambahkan ke dalam sabun yang bertujuan untuk mempertinggi
kualitas produk sabun sehingga menarik konsumen. Bahan-bahan aditif tersebut
antara lain : Builders, Fillers inert, Anti oksidan, Pewarna,dan parfum. Macam
– macam :
i.
Builders (Bahan Penguat) :
Builders digunakan untuk
melunakkan air sadah dengan cara mengikat mineral mineral yang terlarut pada
air, sehingga bahan bahan lain yang berfungsi untuk mengikat lemak dan
membasahi permukaan dapat berkonsentrasi pada fungsi utamanya. Builder juga
membantu menciptakan kondisi keasaman yang tepat agar proses pembersihan dapat
berlangsung lebih baik serta membantu mendispersikan dan mensuspensikan kotoran
yang telah lepas. Yang sering digunakan sebagai builder adalah senyawa senyawa
kompleks fosfat, natrium sitrat, natrium karbonat, natrium silikat atau zeolit.
ii.
Fillers Inert (Bahan Pengisi) :
Bahan ini berfungsi
sebagai pengisi dari seluruh campuran bahan baku. Pemberian bahan ini berguna
untuk memperbanyak atau memperbesar volume. Keberadaan bahan ini dalam campuran
bahan baku sabun semata mata ditinjau dari aspek ekonomis. Pada umumnya,
sebagai bahan pengisi sabun digunakan sodium sulfat. Bahan lain yang sering
digunakan sebagai bahan pengisi, yaitu tetra sodium pyrophosphate dan sodium
sitrat. Bahan pengisi ini berwarna putih, berbentuk bubuk, dan mudah larut
dalam air.
iii.
Pewarna :
Bahan ini berfungsi untuk
memberikan warna kepada sabun. Ini ditujukan agar memberikan efek yang menarik
bagi konsumen untuk mencoba sabun ataupun membeli sabun dengan warna yang
menarik. Biasanya warna-warna sabun itu terdiri dari warna merah, putih, hijau
maupun orange.
iv.
Parfum :
Parfum termasuk bahan
pendukung. Keberadaaan parfum memegang peranan besar dalam hal keterkaitan
konsumen akan produk sabun. Artinya, walaupun secara kualitas sabun yang
ditawarkan bagus, tetapi bila salah memberi parfum akan berakibat fatal dalam
penjualannya. Parfum untuk sabun berbentuk cairan berwarna kekuning kuningan
dengan berat jenis 0,9. Dalam perhitungan, berat parfum dalam gram (g) dapat
dikonversikan ke mililiter. Sebagai patokan 1 g parfum = 1,1ml. Pada dasarnya,
jenis parfum untuk sabun dapat dibagi ke dalam dua jenis, yaitu parfum umum dan
parfum ekslusif. Parfum umum mempunyai aroma yang sudah dikenal umum di
masyarakat seperti aroma mawar dan aroma kenanga. Pada umumnya, produsen sabun
menggunakan jenis parfum yang ekslusif. Artinya, aroma dari parfum tersebut
sangat khas dan tidak ada produsen lain yang menggunakannya. Kekhasan parfum
ekslusif ini diimbangi dengan harganya yang lebih mahal dari jenis parfum umum.
Beberapa nama parfum yang digunakan dalam pembuatan sabun diantaranya bouquct
deep water, alpine, dan spring flower.
2.
Rumusan Hipotesis
Menurut Narasumber kami Bapak Supri
pembuatan sabun cuci piring sangatlah mudah bahan-bahan yang di gunakan adalah
Texapon, Natrium Sulfat, Camperlan, EDTA, Gliserin, NaCl, Pewangi, Pewarna, dan
Air. Semua bahan-bahan tersebut tinggal ditakar dan di masukkan satu per satu
sesuai dengan cara kerja yang berlaku.
BAB III
METODOLOGI
1. Prosedur
Pencarian Judul
Sabun
cuci piring ”Seep Clean” berasal dari kata seep dan clean. Seep berasal dari bahasa
Afganistan yang berarti sabun dan clean berasal dari bahasa Inggris. Jadi Seep
Clean memiliki arti sabun yang bersih. Tidak sedikit orang yang mengetahui arti
sebenarnya dari Seep Clean. Perpaduan antar dua bahasa ini memang sulit untuk
ditebak. Menurut kami kata Seep Clean selain memilik arti sabun yang bersih
juga memiliki arti sabun yang baik karena dengan kata seep hamper mirip dengan
siip.
2. Prosedur
Survay
Setelah
menentukan judul kami mencari informasi mengenai sabun cuci piring. Kami
mendapatkan beberapa narasumber yang kebanyakan dari mereka telah merilis usaha
produksi sabun yang sudah cukup besar. Tidak dipungkiri dalam mencari
narasumber yang dapat diwawancarai mengenai takaran bahan sampai proses
pembuatan sangat susah. Karena dalam usaha pasti ada resep rahasia dan usaha
tersebut dapat bersaing dengan pengusaha yang lain ditentukan dari resep
rahasia tersebut. Sudah beberapa narasumber yang kami kontak menggunakan
whaatshap, tetapi tidak bisa kami wawancarai. Ada narasumber yang menawarkan
pelatihan pembuatan dengan harga yang mahal untuk kalangan pelajar yaitu
500.000,00 per orang dan hanya mendapatkan pelatian untuk satu macam produk.
Hingga
kami menemukan narasumber yang bernama Pak Supri beralamat di Pajangan, Bantul
yang bersedia untuk kami wawancari dan melatih kami untuk membuat sabun cuci
piring. Kami membuat janji untuk survai ke rumah narasumber pada hari Kamis, . pak Supri dulunya merupakan produsen sabun
cuci piring, pewangi londray, shampoo mobil, deterjen cair, dan produk
kebersihan yang lainnya. Namun sekarang Pak Supri memilih menekuni distribusi
bahan kimia karena dirasa labanya lebih besar dan tidak membutuhkan banyak
tempat. setelah mengikuti pelajaran sampai jam ke 8 kami menuju ke rumah Pak
Supri. Waktu yang ditempuh dari SMK N 2 Depok kurang lebih 2 jam. Kami sempat
tersesat padahal sudah menggunakan googel maps. Jalan yang ditunjukan oleh
googel maps bukan jalan utama karena jalannya belum bagus, sangat cura,dan
berada di tengah bukit kapur.
Setelah
menemukan rumah Pak Supri kami disambut baik oleh beliau. Kami diberi cara cara
dalam pembuatan sabun cuci piring dan hal-hal yang harus diperhatikan dalam
pembuataan sabun cuci piring. Yaitu proses pengadukan yang harus homogen,
penambahan zat yang berfungsi sebai anti iritasi, penambahan zat yang memiliki
sifat pengikat lemak untuk mengikat noda lemak yang ada di prabotan rumah
tangga dan jenis pewarna yang baik digunakan untuk produk ini dan tentunya
aman.
3. Prosedur
Percobaan Pendahulu
Setelah
mendapat petunjuk pembuatan kami
mempraktekkan dengan dibantu oleh Pak Supri. Alat dan bahan sudah disediakan
oleh beliau. Kami hanya mencampur dan mengaduk bahan dan sesekali Pak Supri
menjelaskan kembali tentang fungsi bahan tersebut.
4. Prosedur
Produksi
Sabun
cucipiring “Seep Clean” diproduksi
di Brangwetan, Sumberan, Sumber Agung, Moyudan, Sleman pada hari Sabtu, 27
Januari 2018 dengan bimbingan dari narasumber kami. Untuk bahan-bahan yang
dibutuhkan dan kemasan serta tutup ber segel sudah dibawakan oleh narasumber,
jadi kita membeli dari narasumber. Pertama-tama disiapkan dahulu alat yang
dibutuhkan untuk memproduksi sabun cuci piring “Seep Clean” diantaranya: ember
besar 3buah, pengaduk, botol untuk kemasan serta tutup ber segel Sedangkan
untuk bahannya yang diperlukan yaitu texapon 4 kg, natrium sulfat 100 gram,
camperland 500 gram, gliserin 50 gram, Nacl 700 gram, pewangi 50-100 ml,
pewarna secukupnya dan disiapkan air.
Pertama-tama
2 ember diisidengan air bersih. Ember yang masih kosong digunakan untuk
mencampur bahan-bahan yang akan digunakan untuk produksi sabun. Bahan pertama
yang dimasukkan kedalam ember adalah texapon dan selanjutnya natrium sulfat dan
NaCl diaduk rata sampai berwarna putih susu. Dimasukkan camperland dan griserin
kemudian aduk hingga rata, tuangkan air sedikit demi sedikit hingga homogen
baru dituangkan kembali. Dicampurkan pewarna dan EDTA dalam sisa air tadi
kemudian dicampurkan sedikit demi sedikit hingga homogen. Dicek kekentalannya,
kalau masih terlalu kental boleh ditambahkan air. Setelah dirasa cukup baru
ditambahkan pewangi dan diaduk hingga rata.
Setelah
selesai produksi dalam ember masih ada buih sabun,untuk itu sabun yang ada
didalam ember didiamkan selama ±8 jam agar buihnya hilang. Sambil menunggu buih
hilang, waktu itu dimanfaatkan untuk membersihkan kemasan karena yang digunakan
botol bekas untuk menghemat biaya.
Pengemasan sabun menggunakan corong untuk memindahkan kedalam botol. Setelah
sabun dituang kedalam kemasan kemudian diberi label sebagai identitas dari
sabun produksi kami. Kemasan yang digunakan terdiridari 3 varian botol. Botol
dengan ukuran 1500 ml, ukuran 600ml, dan
330ml. Dengan harga jualmasing-masing botol berbeda. Untuk botol dengan ukuran
1500ml Rp 20.000,00. Botol ukuran 600ml
dengan harga Rp 10.000,00 dan untuk
botol ukuran 330ml seharga Rp 5.000,00. Dalam sekali produksi menghasilkan 12 botol
dengan ukuran 1500 ml, 33 botol dengan ukuran 600 ml, dan 20 botol dengan ukuran 330 ml. Jadi total
produksi kali ini ada 65 botol.
5. Prosedur
Pemasaran
Untuk konsumen kami menargetkan
bapak/ibu guru di dalam maupun di luar sekolah ,teman-teman, dan masyarakat
sekitar. Untuk bapak/ibu guru
disekolah,kami menawarkan produk melalui pesan WhatsApp dan Alhamdulillah
bapak/ibu guru berminat dengan produk kami. Hari Seninnya kami tinggal
mengantar pesanan bapak/ibu guru. Untuk
bapak/ibu guru di luar sekolah kami mendatangi sekolah dasar yang berada dekat dengan
rumah yang sebelumnya sudah kami tawarkan melalui pesan WhatsApp dan
mendapatkan ijin untuk menawarkan produk kami kepada guru lainnya. Untuk
dikalangan masyarakat kami tawarkan langsung produk kami. Pembeli produk kami
mengisi angket sebagai bukti pembelian dan mengisi kolom saran guna perbaikan
produksi selanjutnya.
6. Prosedur
Pelaporan
Dari hasil penjualan produk sabun cuci piring
“Seep Clean” mendapatkan sebesar Rp 710.000,00 dengan keuntunganRp 468.200,00
dari modal awal sebesar Rp 60.450,00. Produk sabun cucipiring “Seep Clean” kami memiliki beberapa keunggulan
diantaranya dengan kekentalan sabun yang baik,dapat membersihkan piring
dengancepat, mengangkat lemak yang menjadikan piring bersih kesat, busa sabun
yang melimpah, dan keharuman lime dari sabun yang menyegarkan.
7.
Alat dan Bahan :
Bahan :
a.
Texapon
4kg
b.
Natrium
Sulfat 100gram
c.
Camperlan
500gram
d.
EDTA
50gram
e.
Gliserin
50gram
f.
NaCl
700gram
g.
Pewangi
50–100ml
h.
Pewarna
i.
Air
35-100ml
Alat :
a.
Alat
Pengaduk
b.
Ember
c.
Kemasan
dan label
8.
Cara
Kerja :
a.
Siapkan
alat dan bahan yang akan digunakan
b.
Dituangkan
texapon,natrium sulfat, dan NaCl dalam ember diaduk dengan rata
c.
Dimasukkan
camperlan dan gliserin diaduk hingga rata
d.
Dituangkan
air sedikit demi sedikit hingga homogeny baru dituang air lagi
e.
Dicampurkan
EDTA dan pewarna dalam sisa air
f.
Sisa
air dimasukan kedalam ember sedikit demi sedikit hingga homogen
g.
Dicek
kekentalannya bila sudah cukup dituang pewangi dan diaduk hingga rata
h.
Didiamkan
± 8jam agar buih hilang
i.
Sesekali
diaduk
j.
Siap
dikemas
BAB IV
PELAKSANAAN
1. Proses
Pelaksanaan
Sabun cucipiring “Seep Clean” diproduksi di Brangwetan,
Sumberan, Sumber Agung, Moyudan, Sleman
pada hari Sabtu, 27 Januari 2018 dengan bimbingan dari narasumber kami. Untuk
bahan-bahan yang dibutuhkan dan kemasan serta tutup ber segel sudah dibawakan
oleh narasumber, jadi kita membeli dari narasumber. Pertama-tama disiapkan
dahulu alat yang dibutuhkan untuk memproduksi sabun cuci piring “Seep Clean”
diantaranya: ember besar 3buah, pengaduk, botol untuk kemasan serta tutup ber
segel Sedangkan untuk bahannya yang diperlukan yaitu texapon 4 kg, natrium
sulfat 100 gram, camperland 500 gram, gliserin 50 gram, Nacl 700 gram, pewangi
50-100 ml, pewarna secukupnya dan disiapkan air.
Pertama-tama 2 ember diisidengan air bersih.
Ember yang masih kosong digunakan untuk mencampur bahan-bahan yang akan
digunakan untuk produksi sabun. Bahan pertama yang dimasukkan kedalam ember
adalah texapon dan selanjutnya natrium sulfat dan NaCl diaduk rata sampai
berwarna putih susu. Dimasukkan camperland dan griserin kemudian aduk hingga
rata, tuangkan air sedikit demi sedikit hingga homogen baru dituangkan kembali.
Dicampurkan pewarna dan EDTA dalam sisa air tadi kemudian dicampurkan sedikit
demi sedikit hingga homogen. Dicek kekentalannya, kalau masih terlalu kental
boleh ditambahkan air. Setelah dirasa cukup baru ditambahkan pewangi dan diaduk
hingga rata.
Setelah selesai produksi dalam ember masih ada buih sabun,untuk itu
sabun yang ada didalam ember didiamkan selama ±8 jam agar buihnya hilang.
Sambil menunggu buih hilang, waktu itu dimanfaatkan untuk membersihkan kemasan
karena yang digunakan botol bekas untuk menghemat biaya. Pengemasan sabun menggunakan corong untuk memindahkan kedalam
botol. Setelah sabun dituang kedalam kemasan kemudian diberi label sebagai
identitas dari sabun produksi kami. Kemasan yang digunakan terdiridari 3 varian
botol. Botol dengan ukuran 1500 ml, ukuran 600ml, dan 330ml. Dengan
harga jualmasing-masing botol berbeda. Untuk botol dengan ukuran 1500ml Rp
20.000,00. Botol ukuran 600ml dengan
harga Rp 10.000,00 dan untuk botol
ukuran 330ml seharga Rp 5.000,00. Dalam sekali produksi menghasilkan 12 botol
dengan ukuran 1500 ml, 33 botol dengan ukuran 600 ml, dan 20 botol dengan ukuran 330 ml. Jadi total
produksi kali ini ada 65 botol.
Untuk pembeli kami menargetkan
bapak/ibu guru di dalam maupun di luar sekolah ,teman-teman, dan masyarakat sekitar. Untuk bapak/ibu guru disekolah,kami menawarkan
produk melalui pesan WhatsApp dan Alhamdulillah bapak/ibu guru berminat dengan
produk kami. Hari Seninnya kami tinggal mengantar pesanan bapak/ibu guru. Untuk bapak/ibu guru
di luar sekolah kami mendatangi sekolah dasar yang
Berada dekat dengan
rumah yang sebelumnya sudah kami tawarkan melalui pesan WhatsApp
dan mendapatkan ijin untuk menawarkan produk kami kepada guru lainnya. Untuk
dikalangan masyarakat kami tawarkan langsung produk kami. Pembeli produk kami
mengisi angket sebagai bukti pembelian dan mengisi kolom saran guna perbaikan
produksi selanjutnya. Dari hasil penjualan produk sabun cuci piring “Seep
Clean” mendapatkan sebesar Rp 710.000,00 dengan keuntunganRp 468.200,00 dari
modal awal sebesar Rp 60.450,00.
Produk sabun cucipiring “Seep Clean” kami
memiliki beberapa keunggulan diantaranya dengan kekentalan sabun yang
baik,dapat membersihkan piring dengancepat, mengangkat lemak yang menjadikan
piring bersih kesat, busa sabun yang melimpah, dan keharuman lime dari sabun
yang menyegarkan.
2.
Rincian
Pelaksanaan
a. Nama
Kegiatan
Produksi sabun cuci piring “Seep Clean”
b. Landasan
Kegiatan
Praktikum kejuruan dalam memproduksi
Sabun Cuci Piring.
c. Bentuk Kegiatan
Bentuk kegiatan ini
yaitu:
a. Produksi
sabun cuci piring
b. Pemasaaran
dari produk
d. Pelaksanaan
Kegiatan
a. Menjual
Produk
Nama
Kegiatan : Praktikum Kejuruan
Hari :
Senin
Tanggal Kegiatan : 29 Januari 2018
Tempat :
SMK N 2 Depok Yogyakarta
b. Membuat
Produk
Nama Kegiatan : Memproduksi Sabun Cuci Piring
Hari :
Sabtu
Tanggal Kegiatan : 27 Januari 2018
Tempat :
Brangwetan, Sumberan, Sleman
e. Susunan
Panitia
1.
Pelindung : Drs.
Araghani Mizan Zakaria, M.Pd
2.
Kepala Jurusan : Dra. Eny
Hendriyati, M.T
3.
Pembimbing : Surip, M.Pd
4.
Ketua I : Mareta Indah Damayanti
5.
Ketua II : Ganing
Irbah AL L
6.
Sekertaris : Indah
Nur Aurum A
7.
Bendahara : Krisnanti
Tri Nugraheni
f.
Anggran Dana
Harga
tetap
No
|
Benda
|
Jumlah
|
Harga ( rupiah )
|
1.
|
Ember
|
1
|
100, 00
|
2.
|
Pengaduk
|
1
|
100, 00
|
3.
|
Botol dan Segel
|
71
|
20.000, 00
|
4.
|
Label
|
71
|
47.100,00
|
Jumlah
|
67.300, 00
|
||
Harga
tidak tetap
No
|
Bahan
|
Jumlah
|
Harga ( rupiah )
|
1.
|
Texapon
|
4000 gram
|
100.000,00
|
2.
|
Sodium sulfat
|
100 gram
|
500, 00
|
3.
|
Camperlan
|
500 gram
|
21.000, 00
|
4.
|
EDTA
|
50 gram
|
3.500, 00
|
5.
|
Gliserin
|
50 gram
|
1.000, 00
|
6.
|
Garam Pa
|
700 gram
|
5.000, 00
|
7.
|
Pewangi
|
100 ml
|
40.000, 00
|
8.
|
Pewarna
|
50 ml
|
3.000, 00
|
9.
|
Air
|
4000 ml
|
500, 00
|
Jumlah
|
174.500,00
|
||
Seluruh biaya / modal yang dibutuhkan :
Harga tidak tetap + harga tetap = Rp 174.500 + Rp
67.300
= Rp 241.800, 00
Keterangan :
Biaya tersebut diatas adalah biaya untuk
satu kali produksi dan menghasilkan sekitar
5100 ml yang akan dikemas dalam beberapa ukuran botol kemasan yakni
kemasan 1500 ml, 600 ml, dan 330 ml. Sehigga didapatkan:
Ukuran
botol
|
Jumlah
|
Harga
per-botol ( rupiah )
|
Jumlah
penjualan ( rupiah )
|
1500
ml
|
12
|
20.000,
00
|
240.000,
00
|
600
ml
|
36
|
10.000,
00
|
360.000,
00
|
330
ml
|
23
|
5.000,
00
|
115.000,
00
|
jumlah
|
71
|
710.000,
00
|
|
Modal yang dibutuhkan Rp 241.800
didapatkan dari iuran Rp 60.450, 00 setiap anggota kelompoknya. Dan dari
penjualan 71 botol didapatkan uang sebanyak Rp 710.000, 00.
Keuntungan satu kali produksi :
= harga penjualan – harga produksi
= Rp 710.000,00 – Rp 241.800,00
= Rp 468.200,00
g. Label
h. Dokumentasi
Kegiatan
Terlampir
i. Evaluasi
·
Pemasangan label
kurang rapi
·
Segel botol
kurang tertutup rapat
·
Volume sabun
cuci piring kurang banyak
·
Aroma sabun cuci
piring kurang harum
PENUTUP
Demikian rencana kegiatan pembelajaran Praktikum
Kejuruan ini kami ajukan, besar harapan kami agar kegiatan yang kami
selenggarakan ini dapat berjalan sesuai dengan harapan kami dan dapat
bermanfaat bagi masyarakat dan pihak-pihak yang terlibat.
Oleh karena itu kami bermaksud
memohon persetujuan dan dukungan dari bapak dan ibu guru dan pihak-pihak yang
terlibat dalam kegiatan ini. Kegiatan ini tidak dapat berjalan dengan lancar
tanpa bantuan dan dukungan dari bapak/ibu guru.
Yogyakarta, 26 Februari 2018
Hormat
kami,
DAFTAR
PUSTAKA
1.
http://sinthalestari.blogspot.co.id/2014/05/makalah-pembuatan-sabun-cair.html
2.
http://spygirlzone.blogspot.co.id/2012/11/makalah-satuan-proses-pembuatan-sabun.html
3.
https://www.google.com/search?q=latar+belakang+laporan+sabun+cuci+piring&ie=utf-8&oe=utf-8&client=firefox-b
4.
https://www.slideshare.net/reni_itasafitri/laporan-pertanggungjawaban-praktikum-ik







0 komentar:
Posting Komentar