This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 11 Desember 2017

Laporan Resmi Pereaksi Pembatas

LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM
AZAS TEKNIK KIMIA
• PERCOBAAN 1
“Pereaksi pembatas”
• TUJUAN
  1. Menentukan pereaksi pembatas dan pereaksi berlebih
  2. Menentukan hasil reaksi berbentuk gas
• DASAR TEORI
Sesuai namanya, pereaksi pembatas adalah zat (pereaksi) yang membatasi jumlah produk yang dihasilkan pada suatu reaksi.  Dikatakan membatasi jumlah produk yang dihasilkan karena zat tersebut telah habis terlebih dahulu selagi zat yang lain masih ada, padahal keberadaannya sangat diperlukan untuk reaksi selanjutnya (menghasilkan produk). Jadi, pereaksi pembatas adalah pereaksi yang habis terlebih dahulu (pertama kali).
Pereaksi pembatas dapat ditentukan dengan cara membagi jumlah mol setiap pereaksi masing-masing dengan koefisien reaksinya (= kuosien reaksi, Q).  Tentu saja dari reaksi yang sudah setara.  Pereaksi dengan kuosien reaksi terkecil merupakan pereaksi pembatas. Dengan demikian kalau tersedia beberapa zat pereaksi dengan jumlahnya masing-masing, kita dapat meramalkan zat pereaksi apa yang nantinya habis terlebih dahulu atau zat apa yang tersisa.
perhatikan gambar di bawah ini!
X+2Y→XY2
Gambar : Pereaksi Pembatas
Reaksi di atas memperlihatkan bahwa menurut koefisien reaksi, 1 mol zat X membutuhkan 2 mol zat Y. Gambar di atas menunjukkan bahwa 3 molekul zat X direaksikan dengan 4 molekul zat Y. Setelah reaksi berlangsung, banyaknya molekul zat X yang bereaksi hanya 2 molekul dan 1 molekul yang tersisa, sedangkan 4 molekul zat Y habis bereaksi. Maka zat Y ini disebut pereaksi pembatas.
Beberapa cara konversi
Dari mol ke gram atau dari mol menjadi massa
Dari gram atau dari massa menjadi mol
               Mr tidak memiliki satuan yang memiliki satuan massa molar zat itu jadi ketika akan dikonfersi dari satuan ke satuan yang lain, yang digunakan adalah massa molar bukan Mr atau Ar. Massa molar memiliki satuan g/mol.
Konsep kunci pengertian Reaksi Pembatas :
  • Pereaksi (reaktan) pembatas adalah pereaksi yang benar-benar habis digunakan selama reaksi kimia.
  • Pereaksi yang berlebih adalah reaktan yang tidak sepenuhnya habis digunakan selama reaksi kimia, dengan kata lain ada beberapa dari reaktan yang tersisa setelah reaksi.
2.2 Cara Menentukan Reaksi Pembatas
• ALAT DAN BAHAN
ALAT :
  1. Gelas ukur 250 ml
  2. Baskom
  3. Statif dan klem
  4. Corong
  5. Pipet ukur
  6. Pro pipet
BAHAN :
  1. 4 ml HCl pekat 37%
  2. Pita magnesium 0.25 gram
  3. Aquadest
  1. CARA KERJA
  1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
  2. Ditimbang pita magnesium seberat 0.25 gram
  3. Dituangkan aquadest kedalam baskom
  4. Dituangkan aquadest ke gelas ukur, lalu gelas ukur dibalik dan dimasukkan kedalam baskom yang berisi corong
  5. Diletakkan pita magnesium kedalam corong
  6. Dipasang statif dan klem agar gelas ukur tidak terjatuh
  7. Dimasukkan HCl pekat kedalam baskom yang berisi aquadest menggunakan pipet ukur
  8. Diamati dan dicatat reaksi yang terjadi
• HASIL PENGAMATAN
CARA KERJA, HASIL PENGAMATAN
1, Tidak ada yang diamati
2, Tidak ada yang diamati
3, Tidak ada yang diamati
4, Setelah gelas ukur dibalik tidak ada gelembung yang masuk ke gelas ukur
5, Tidak ada yang diamati
6, Tidak ada yang diamati
7, Magnesium mulai bereaksi dengan HCl yang ditandai oleh adanya gelembung-gelembung udara yang memancar keatas melalui corong. Air berkurang dan berubah menjadi gas H2
• ANALISIS DATA
Reaksi :
2HCl(l) + Mg(s) —–> MgCl2(aq) + H2(g)
Pada tekanan 740 mmHg = 740/760
T = 28°C = 301K
R = 0.082 L.atm/mol.K
PV = nRT
V = nRT/P = 1/96 × 0.083 × 301 // 740/760
                   = 760 × 0.082 × 301/ 76740
                   = 264 ml
Teta
Gas H2 yang dihasilkan = 260 ml
Pereaksi pembatas = Mg
V gas H2 = 260 ml = 0.26 L
P = 1 atm
R= 0.082 L.atm/mol.K
T= 27°C = 27+273 = 300K
n= PV/RT = 1 × 0.26 / 0.082 × 300
                  = 0,00274 mol
0.25 gram Mg direaksikan dengan 4 ml HCl pekat 37%, 4 ml HCl pekat 37% dengan massa jenis 1,19 kg/L dapat dihitung molnya
0.25 gram Mg = 0.25/24 =1/96 mol –> 1/48mol HCl
0,25 gram Mg = 1/96 × 22,4 × 1000
                          = 1/96 × 22,408 ml
                          = 233,3 ml
• PEMBAHASAN
Dalam praktikum kali ini diperlukan kesabaran dan ketetapan. Dikarenakan ketika air yang berada didalam gelas ukur, ketika gelas dibalik tidak boleh ada gelembung sama sekali. Harus dilihat dan dipastikan tidak ada gelembung didalam gelas ukur. Ketika Mg bereaksi dengan HCl, keluar gelembung-gelembung H2. Gelembung keluar memancar melewati corong, gelembung keluar sedikit demi sedikit kemungkinan dikarenakan pita Mg yang terlalu besar sehingga menghalangi gelembung untuk naik. Diperlukan waktu yang cukup lama untuk memastikan benar benar reaksi antara HCl dengan Mg sudah berhenti.
Pereaksi pembatas pada praktikum kali ini adalah Mg karena Mg habis terlebih dahulu. Untuk volume yang tersisa adalah 260 ml. Tetapi, dalam teori seharusnya 240 ml. Dalam praktikum ini menggunakan gelas ukur 250 ml jadi, kemungkinan volume yang tersisa tidak sesuai dengan teori adalah kesalahan mata melihat.
• KESIMPULAN
Dalam praktikum ini dapat disimpulkan :
  • Diperlukan kesabaran dan ketetapan ketika membalik gelas ukur yang berisi aquadest supaya tidak ada gelombang didalam gelas ukur
  • Gas H2 keluar kurang cepat karena Mg yang terlalu besar kemungkinan menghalangi jalannya gas
  • Pereaksi pembatasnya adalah Mg
  • Kesalahan yang terjadi dalam menentukan volume akhir adalah kesalahan mata melihat, karena dalam praktikum ini menggunakan gelas ukur 250 ml sedangkan volume akhir lebih dari 250 ml
  1. DAFTAR PUSTAKA
pereaksi-pembatas.html.mht

Minggu, 10 Desember 2017

Laporan Resmi Pembuatan Mayonaise

LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM
OPERASI TEKNIK KIMIA

• PERCOBAAN I
Pembuatan produk makanan mayonnaise
• TUJUAN
  1. Memahami proses pengemulsian
  2. Dapat mengidentifikasi bahan-bahan dan perakitan yang dibutuhkan
  3. Dapat menghitung dan menyiapkan kebutuhan bahan berdasarkan resep
  4. Dapat menyiapkan dan mengoperasikan peralatan
  5. Dapat membuat mayonnaise (mencampur bahan cair-cair yang tidak larut)
  • DASAR TEORI
Mayonaise adalah produk padat berbentuk pasta yang lembut sebagai hasil pencampuran basah antara minyak, air, dan bahan-bahan tambahan lainnya. Teknik yang digunakan adalah emulsifikasi dan produk yang dihasilkan disebut emulsi. Emulsi adalah suatu campuran yang terdiri atas bahan cair-cair atau cair padat yang tidak saling melarutkan misalnya minyak dan air. Satu cairan (minyak) terdispersi/tersebar dalam bentuk globula di dalam cairan lainnya (air)
Agar minyak dan air dapat bercampur dengan sempurna dibutuhkan komponen ketiga yang disebut emulsifier atau bahan pengemulsi. Emulsifier merupakan surfaktan yang mempunyai dua gugus yang berbeda, yaitu hidrofilik (suka air) dan lipofilik (suka minyak). Selain bahan pengemulsi, pada pembuatan emulsi sering juga ditambahkan bahan penstabil untuk meningkatkan kekentalan air sehingga emulsi yang dihasilkan menjadi lebih kental dan lebih stabil. Sifat fisik emulsi yang perlu dikenal adalah: (1) penampakan, yang erat hubungannya dengan ukuran emulsi; (2) kekentalan emulsi, yang tergantung pada jumlah dan kekentalan cairan, ukuran partikel bahan terdispersi serta jenis dan konsentrasi bahan pengemulsi. Kestabilan emulsi dibagi menjadi tiga jenis yaitu (1) emulsi sementara (temporer) yang membutuhkan pengocokan kuat sebelum digunakan, misalnya emulsi obat batuk cair; (2) emulsi semi permanen yang berbentuk pasta, misalnya krim, mayonaise; dan (3) emulsi permanen yang memiliki viskositas tinggi, misalnya sosis. Kerusakan emulsi ditandai dengan terpisahnya bahan penyusunnya, timbulnya gumpalan-gumpalan kasar yang longgar dan tidak teratur, dan penggabungan butir-butir emulsi yang kecil menjadi butir-butir yang lebih besar. Pemecahan emulsi dapat dipicu dengan adanya pemanasan, pengadukan mekanis yang kuat, dan sentrifusi kecepatan tinggi.
Dalam pembuatan emulsi, urutan dan laju penambahan bahan sangat penting diperhatikan agar didapatkan hasil akhir yang diinginkan. Pembuatan mayonaise meliputi pencampuran emulsifier dengan asam cuka,gula, garam, bumbu, dan air, dilanjutkan dengan penambahan minyak sedikit demi sedikit sambil terus dilakukan pengadukan sampai membentuk pasta yang lembut dan berwarna putih. Emulsifier yang digunakan adalah kuning telur.
• ALAT DAN BAHAN
ALAT :
  1. Mixer
  2. Gelas ukur
  3. Sendok
  4. Baskom
  5. Toples
  6. Timbangan
BAHAN :
  1. Minyak salad 333ml
  2. Asam cuka 80ml
  3. Kuning telur 2 buah
  4. Gula 6,5 gram
  5. Garam 5 gram
• CARA KERJA :
1.      Ditimbang dan ditakar bahan-bahan yang akan digunakan
2.      Kuning telur, gula, garam dan asam cuka dimasukkan ke dalam baskom
3.      Diaduk dengan mixer kecepatan rendah sampai semia bahan larut menjadi satu
4.      Ditambahkan sebanyak 1 sendok makan minyak  salad
5.      Tetapi dengan anjuran tetes demi tetes
6.      Ditambahkan sisa minyak salad secara betahap
7.      Sebanyak setengah sendok makan sambil terus diaduk sampai minyak habis
8.      Pencampuran dihentikan dan mayonnaise dmasukkan kedalam toples.
• HASIL PENGAMATAN
NO SIFAT PRODUK HASIL PENGAMATAN
1 Warna Kuning pucat
2 Kekompakan Mayonaise menyatu dngan sempurna
3 Kehalusan Mayonaise halus (semua bahan larut)
4 Kekentalan Cukup kental seperti hasil industri
5 Kestabilan Mayonaise yang didiamkan tidak pecah (stabil)
• ANALISIS DATA (BREAK EVENT POINT)
HARGA TETAP (dalam rupiah)
# biaya alat
Mixer
800
Sendok
100
Baskom
150
Timbangan
700
Gelas ukur
200
Toples
150
Perawatan alat
5000
7100
# biaya kemasan (per 1 produksi)
Cup
2500
Label
1000
3500
# biaya operasional (per bulan)
Bensin
250.000
Promosi
50.000
Pack
30.000
PPH
100.000
Sewa
500.000
930.000
Keterangan :
Biaya tersebut digunakan sesuai dengan keterangan di atas. Untuk 1 hari 3 pekerja dapat mengerjakan 10 kali produksi
HARGA TIDAK TETAP (dalam rupiah) dalam 1 produksi
Minyak salad
12.600
Garam
60
Gula
745
Asam cuka
500
Kuning telur
2.500
Dan lain-lain
115
16.510
Kalkulasi harga (perbulan)
# harga tetap = 7100 + (30.3500.10) + 930000 = 987100
# harga tidak tetap = 16510.10.30 = 4953000
Seluruh harga yang diperlukan
= harga tetap+harga tidak tetap+harga pekerja
= Rp 987.100 + Rp 4.953.000 +  Rp 2.400.00
= Rp 9.340.000
Biaya pekerja/bulan = Rp 800.000
Biaya 3 pekerja = Rp 2.400.000
Hasil produksi/1 kali produksi = 450ml
Dibuat 50ml => Rp5.000
Sehingga seluruh penjualan adalah  Rp 13.500.000/ bulan
BEP Harga =  total biaya:total produksi= 31,13 unit
BEP Produksi =  total biaya:total pembayaran  = 3450,25
Keuntunga 1 bulan
= harga penjualan – harga produksi
= Rp 13.500.000 – Rp 9.340.000
= Rp 4.160.000
• PEMBAHASAN
Berdasarkan praktikum pembuatan mayonaise kita bisa mengetahui keuntungan yang diperoleh selama 1 bulan produksi sebesar Rp 4.160.000 selain itu kita bisa mengetahui BEP harga dan BEP produksi sebesar 31,13 dan 3459,25.
Hasil data yang diperoleh dari praktikum ini menghasilkan warna yang menarik (putih kekuningan) tekstur lebih kental dan mempunyai aroma yang khas. Hal ini disebabkan dala proses pembuatan dilakukan secara berhati-hati dan sesuai prosedur.
Pada saat pembuatan mayonaise pada saat penambahan minyak salad dilakukan pertetes dan diaduk dengan kecepatan rendah supaya bisa tercamur dengan rata dan tidak pecah.
• KESIMPULAN
Dari praktikum yang dilakukan dalam pembuatan mayonaise didapatkan hasil yang cukup memuaskan, mayonaise yang dihasilkan seperti produk industri. Dari data perhitungan dengan modal Rp 9.340.000 dan dapat menghasilkan produk 450ml dalam 1 kali produksi serta mendapat keuntungan sebesar Rp 4.160.000 dalam satu bulan.
• DAFTAR PUSTAKA
  1. Modul “ Mencampur Bahan Kimia” SMK Negeri 2 Depok Sleman tahun 2010,
Penyusun : Surip, M.Pd

Laporan Resmi Elektrolisis

LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM
PROSES INDUSTRI KIMIA
• PERCOBAAN 1
Elektrolisis larutan NaCl
• TUJUAN
Mengidentifikasikan hasil reaksi redoks pada proses elektrolisis
• DASAR TEORI
Elektrolisis adalah peristiwa penguraian atas suatu larutan elektrolit yang telah
dialiri oleh arus listrik searah.Sedangkan sel dimana terjadinya reaksi tersebut disebut elektrolisis.Sel elektrolisis terdiri dari lautan yang menghantarkan arus listrik yang disebut elektrolit dan sepasang elektroda yang dicelupkan dalam elektrolit.
Elektroda yang menerima elektron sumber arus listrik luar disebut Katoda,sedangkan elektroda yang mengalirkan elektron kembali ke  sumber arus listrik luar disebut Anoda.Katoda adalah tempat terjadinya reaksi reduksi dan elektroda negatif karena menangkap elektron.Sedangkan, Anoda adalah tempat terjadinya reaksi oksidasi dan elektroda positif karena melepaskan elektron.Reaksi yang terjadi pada sel elektrolisis dan sel vota tetapi muatan elektronnya berbeda.Pada sel volta Katoda (+) dan Anoda (-) sedangkan pada sel elektrolisis Katoda (-) dan Anoda (+).
Titrasi adalah suatu metode untuk menentukan konsentrasi zat didalam larutan. Titrasi dilakukan dengan mereaksikan larutan tersebut dengan larutan yang sudah diketahui konsentrasinya (Brady, 1988: 178). Dalam titrasi, suatu larutan yang harus dinetralkan dimasukkan ke dalam wadah atau tabung. Larutan lain yaitu basa, dimasukkan ke dalam buret lalu dimasukkan ke dalam asam, mula-mula cepat, kemudian tetes demi tetes, sampai titik setara dari titrasi tersebut tercapai. Titik pada saat titrasi dimana indikator berubah warna dinamakan titik akhir (end point) dari indikator. Yang diperlukan adalah memadankan titik akhir indikator yang perubahannya terjadi dalam selang pH yang meliputi pH sesuai dengan titik setara (Ralph H, 2008: 308-310).
Zat yang akan ditentukan kadarnya sendiri disebut dengan titrasi (titran) dan biasanya diletakan di dalam tabung elenmeyer sedangkan zat yang telah diketahui sendiri konsentrasinya disebut sebagai (titer) dan biasanya diletakkan didalam buret baik titer ataupun titran biasanya didalam bentuk larutan (Keenan, 1982: 162). Perubahan besar dari pH yang terjadi dalam titrasi agar dapat menentukan kapan titik ekivalennya akan tercapai. Ada banyak asam dan basa organik dan basa organik lemah yang bentuk-bentuk tak berdisosiasi dan ionnya menunjukan warna yang berbeda warna. Molekul-molekul demikian dapat digunakan untuk menentukan kapan cukup titran telah ditambahkan dan disebut indikator visual.
·• ALAT DAN BAHAN
Alat :
  1. Gelas piala
  2. Pengaduk
  3. Pipa U elektrolisis
  4. Kabel dan jepitam
  5. Power supply
  6. Sumbat
  7. Gelas ukur
  8. Grafit
  9. Selang air/gas
  10. Buret
  11. Erlenmeyer
  12. Statif dan klem
Bahan :
  1. NaCl
  2. Air sabun
  3. Aquadest
  4. Boraks
  5. Indikator PP
  6. HCl
• CARA KERJA
  1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
  2. Alat dicuci dan dikeringkan sampai bersih.
  3. Ditimbang NaCl sebanyak 40 gram dan air 100 gram.
  4. Dilarutkan NaCl dengan air dalam gelas piala dan diaduk menggunakan pengaduk.
  5. Apabila larutan sudah jadi ditambahkan NaCl sedkit demi sedikit ke dalam gelas piala hingga larutan jenuh.
  6. Larutan dimasukkan kedalam pipa U eleketrolisis.
  7. Grafit dimasukkan ke dalam sumbat dan dipasang pada pipa U kemudian dihubungkan dalam power supply.
  8. Dipasang selang air/gas pada pipa U.Ujung selang dicelupkan kedalam larutan sabun sebagai katoda (-) dan larutan NaOH sebagai anoda (+).
  9. Diamati dan dicatat apa yang terjadi.
  10. Dihitung massa gas Cl dan H₂.
  11. Distandarisasi HCl dengan larutan borax.
  12. Sisa HCl digunakan untuk menentukan kadar NaOH hasil reaksi.
• HASIL PENGAMATAN
Cara Kerja Hasil Pengamatan
1 Tidak ada yang diamati
2 Tidak ada yang diamati
3 Tidak ada yang diamati
4 Terdapat NaCl yang tidak larut
5 Tidak ada yang diamati
6 Tidak ada yang diamati
7 Tidak ada yang diamati
8 Muncul gelembung – gelembung gas pada grafit.Gelembung yang ditimbulkan katoda adalah gelembung kecil berbuih dan anoda gelembung besar.
9 Warna NaCl setelah dielektrolisis ungu dan anoda bening
10 Tidak ada yang diamati
11 Tidak ada yang diamati
12 Larutan borax berubah menjadi ungu kemerahan (redish violet) pada pengenceran 1:10 membutuh 65 ml HCl,pengenceran 1:100 membutuhkan 7 ml HCL,dan pengenceran 1:1000 membutuhkan 6 ml HCl
• ANALISIS DATA
e Cl₂                                                    =  35,5
e H₂                                                     = 1
i                                                           = 40 A (diasumsi)
t                                                           = 3600 s
w boraks                                              = 0,28048 gram
NaOH hasil reaksi elektrolisis                         = 60 ml = 0,6 L
  1. HCl pekat = 0,26 ml
  2. Standarisasi HCl = 24,1 ml + 23,4 ml + 23,6 ml =71,1÷ 3 = 23,7 ml
  3. Titrasi penentuan kadar NaOH = 6,5 ml + 7 ml + 6 ml = 19,5÷ 3= 6,5 ml
Menentukan massa Cl2 dan H2
w = e . i . t / 96500
w H2 = 1 . 40 . 3600 / 96500 = 1,496 gram
w Cl2 = 35, 5 . 40 . 3600 / 96500 = 52,97 gram
Reaksi titrasi
NaOH + HCl → NaCl + H₂O
Na₂B₄+ 5H₂O + 2HCl → 2NaCl + 4H₃BO₃
Mr Na₂B₄. 10 H₂O   = 382
Mol boraks = m/mr = 0,28048/382 = 0.000739
Molar boraks = mol boraks/vol boraks = 0,000739/0,1 =0,01468 N
25 ml boraks 0,01468 N dititrasi dengan HCl x N sebanyak 24,1 ml.
N boraks    x V boraks = N HCl x V HCl
0,01468 N x  25 ml      = N HCl x 24,1 ml
N HCl  = 0.01468 N × 10 ml ÷ 6,5 ml
= 0,234 N
Memperkirakan berapa kali pengenceran larutan NaOH hasil elektrolisis agar dapat titrasi dengan larutan HCl .0,01523 N dilakukan 10x pengenceran .
10 ml HCl 0,01523 N memerlukan 65 ml NaOH x N
Na             x       Va = Nb x Vb
0,01523 N x 10 mL = Nb x 6,5 mL
Nb    = 0,01523 N . 10 ml / 6,5 ml
= 0,234 N
NaOH = N. NaOH
  1. NaOH = 0,0234
Volume    = 100 mL
M             = 0,0234 mol/L
n              = M x v
= 0,0234 x 0,1 L
= 0,00234 mol → setelah 10x pengenceran
  • Larutan induk hasil elektrolisis
Mol NaOH= 10 x mol setelah pengenceran
= 10 x 2,34 mol
= 23,4 mol
  • Menghitung kuat arus yang mengalir
Mol H₂ → massa H₂ → w =e . i . t / 96500
i = w . 96500 / e. t
= 1492 . 96500 / 1,3600
= 39,9938 A
  • PEMBAHASAN
Elektrolisis larutan NaCl dengan elektroda karbon (grafit).
NaCl →  +
Katoda : Reaksi reduksi
Kation ( aktif karena  ( termasuk golongan alkali.
2H₂O + 2e → H₂ + 2OH
Anoda : Reaksi Oksidasi
Elektroda karbon (C) → inert
2 → Cl₂ + 2e
Katoda                  : 2H₂O + 2e → H₂ + 2OH
Anoda       : 2 → Cl₂ + 2e
Reaksi sel : 2H₂O + 2 → H₂ + 2OH + Cl₂
• KESIMPULAN
Jenis kombinasi pada percobaan ini adalah larutan elektrolit dengan elektroda
inert karena elektrodanya karbon.Reaksi hanya terjadi disekitar grafit saja tidak dapat
menyeluruh ke seluruh tabung U.Pada asumsi arus 40A didapatkan berat gas H₂ 1,492
gram dan Cl₂ 52,97 gram.Untuk m NaOH adalah 0,00234 mol setelah 10x
pengenceran ,untuk mol NaOH larutan induk hasil elektrolisis adalah 23,4 mol.Untuk
kuat arus yang dihitung adalah 39,9938A.
• DAFTAR PUSTAKA
  1. https://windacindtaungusangatd.blogspot.co.id

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More